🎑 Bekas Cabutan Lidi Baru Klinting
Menurutlegenda yang sangat dipercaya oleh para warga, air yang keluar dari bekas cabutan lidi yang dilakukan Biru Klinting, membentuk Rawa Pening. Baru Klinting ternyata mampu untuk melingkari gunung dan ayahnya memerintahkan untuk bertapa di dalam hutan lereng gunung. Saat bertapa, Biru Klinting menjadi korban penduduk Desa Pathok yang
Semuawarga yang mencabut tak ada yang bisa mencabut lidi tersebut,lalu Baru Klinting pun mencabutnya Baru klinting: Baiklah,karena tak ada yang seorang pun yang dapat mencabut lidi ini Akhirnya dari cabutan lidi tersebut muncul mata air yang semakin lama semakin deras, Penduduk tersebut Tewas semuanya kecuali nenek janda yang baik hati itu
Sebagaibentuk balasan, Baru Klinthing menancapkan lidi ke tanah dan menantang warga desa untuk mencabutnya. Tidak ada satu pun warga desa yang dapat mencabut lidi tsb. Dengan kesaktiannya, Baru Klinthing mancabut lidi tsb dan dari bekas cabutan lidi itu, keluar lah air yang kemudian menenggelamkan seluruh desa sehingga terbentuklah danau
Ah, kalian semua payah. Mencabut lidi saja tidak bisa," kata Baru Klinthing. Baru Klinthing segera mencabut lidi itu. Karena kesaktiannya, ia pun mampu mencabut lidi itu dengan mudahnya. Begitu lidi itu tercabut, suara gemuruh pun menggentarkan seluruh isi desa. Beberapa saat kemudian, air menyembur keluar dari bekas tancapan lidi itu.
Ranuartinya Danau. Ranu Grati adalah danau air tawar yang terletak di tepian tiga desa. Desa Ranu Klindungan, Sumber Dawesari dan Kalipang. Luasnya 1085 hektar. Maka selain disebut ranu Grati kadang disebut juga Ranu Klindungan.. Di Selatan danau terdapat tebing setinggi kurang lebih 50 meter. Di Utara, dibatasi tanah tak kurang dari 2 meter dari permukaan air. Kawasan ini termasuk kaki Utara Kal
BABADMADIUN. Sultan Trenggana mempunyai anak 6 orang, yakni Pangeran Mukmin yg lalu dinobatkan menjadi seorang wali oleh Sunan Giri yang bergelar Sunan Prawata. Putra kedua adalah seorang putri yang dipersunting oleh Pangeran Langgar, putra kyai Gede Sampang di Madura. Putri ketiga permaisuri Pangeran Hadiri, bupati Kali Nyamat. Putri berikutnya diperistri Panembahan Pasarean di Cirebon.
LegendaBaru Klinting? yaitu cerita tentang sebuah mata air yang muncul dari bekas cabutan lidi seorang anak jelmaan ular naga, hingga menimbulkan banjir dan menenggelamkan desa, kemudian membentuk rawa yang cantik yang sekarang kita kenal dengan Rawa Pening.
Menurutcerita yang berkembang di masyarakat, sumber air telaga berasal dari luberan air bekas cabutan lidi Baru Klinting. Alkisah, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya dikutuk seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam. Luka itu tak pernah mau kering.
Iakemudian memamerkan kekuatannya dengan menancapkan sebatang lidi yg disebutnya "Lidi Baru Klinting" dan mengumbar bahwa tidak ada seorangpun di desa itu yg dapat mencabut lidi itu selain dirinya sendiri. Joko menantang orang2 yg merasa kuat dan superior dalam segala hal termasuk kuat harta (orang kaya), orang yg merasa dirinya pintar
BWBWI by-pass byar byar-pet byayakan bye byeng-byeng-byeng byur byurr byuuur C C.V. c/o ca ca ca ca Caba cabai cabak cabang cabang-bercabang cabar cabar hati cabau cabe cabik cabik-cabik cabikan cabir cabir-cabir cabit cablik cabo cabu cabuk cabul cabur cabut cabutan caca cacad cacah cacahan cacak cacamarica cacang cacap cacar
RawaPening yang luasnya sekitar 2.670 hektar ini terletak di sisi jalan yang menghubungkan Bawen dan Salatiga.Rawa Pening yang sangat indah ini menurut cerita legenda berasal dari muntahan air bah dari bekas cabutan lidi Baru Klinting.Tempat wisata ini mudah dijangkau dengan angkutan umum maupun pribadi. Keindahannya yang mempesona, bukan hanya terlatak pada airnya yang bening dan sejuk, tapi
Hanyamencabut sebuah lidi saja semua orang pasti bisa! Hahaha" kata salah seorang warga. Baru Klinting menengadah ke atas seraya berdoa kepada Sang Maha Kuasa dan memohon agar diberikan kekuatan. Kemudian Baru Klinting memegang Sodo Lanang itu dengan tangan kiri lalu dibantu dengan tangan kanan. (bekas cabutan pusaka sodo). Sedangkan
7lUZ4mU. - Rawa Pening adalah salah satu destinasi wisata yang menarik untuk melepas penat di Jawa Tengah. Rawa Pening Z Creator/Titi RomiyatiTerletak hanya 40 menit dari Kota Semarang, danau alami seluas hektare ini menawarkan panorama indah dengan pemandangan pegunungan yang memukau. Asal usul terbentuknya Rawa Pening dihubungkan dengan sebuah legenda menarik. Kisahnya bermula dari sebuah desa bernama Ngasem yang terletak di lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo. Baca Juga Menikmati Sunset dan Keindahan Destinasi Wisata dari Karimun Jawa yang MengagumkanDi desa tersebut tinggal sepasang suami-istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta. Mereka dikenal sebagai pasangan yang pemurah dan suka menolong, sehingga sangat dihormati oleh masyarakat sekitar. Nyai Selakanta menginginkan seorang anak, dan untuk mewujudkannya Ki Hajar bertapa di lereng Gunung Telomoyo. Nyai Selakanta merawat kehamilannya dengan sabar dan keajaiban pun terjadi. Saat melahirkan, yang lahir dari perutnya bukanlah seorang anak manusia, melainkan seekor naga yang diberi nama Baru Klinthing. Baru Klinting memiliki kemampuan berbicara seperti manusia meski berwujud Pening Z Creator/Titi RomiyatiNyai Selakanta merasa malu dan merawat Baru Klinting dengan rahasia. Namun, ketika Baru Klinthing dewasa, ia memutuskan untuk menemui ayahnya yang bertapa di lereng Gunung meyakinkan Ki Hajar dengan membawa pusaka tombak miliknya, Baru Klinthing diperintahkan untuk bertapa di Bukit Tugur agar tubuhnya berubah menjadi itu, ada sebuah desa bernama Pathok yang sangat makmur namun penduduknya angkuh. Mereka bermaksud mengadakan pesta sedekah bumi dan berburu binatang di Bukit mereka menangkap dan memotong-motong daging Baru Klinthing untuk dijadikan hidangan pesta. Saat para warga sedang berpesta, Baru Klinthing yang telah berubah menjadi manusia muncul dan meminta makanan, namun ia malah Klinting meninggalkan desa dan bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Latung. Nyi Latung mengajaknya ke rumahnya dan memberinya Pening Z Creator/Titi RomiyatiDalam perbincangan mereka, Baru Klinthing memberi saran agar warga diberi pelajaran. Ia meminta Nyi Latung untuk menyiapkan alat penumbuk padi dari kayu jika mendengar suara Klinting kembali ke pesta desa dengan membawa sebatang lidi dan menancapkannya ke tanah. Ia meminta warga mencabut lidi tersebut, tetapi tak seorang pun yang berhasil Juga Grojogan Klenting Kuning Kisah Ande Ande Lumut & Mata Air SuciDengan kekuatannya, Baru Klinthing mampu mencabut lidi tersebut dengan mudah. Suara gemuruh menggentarkan seluruh desa, dan air pun menyembur keluar dari besar terjadi, dan seluruh penduduk desa Pathok tenggelam dalam air yang meluap. Desa yang dulu makmur berubah menjadi rawa atau danau yang kini dikenal dengan nama Rawa kejadian itu, Baru Klinting kembali menemui Nyi Latung yang telah menunggu di atas lesung yang berfungsi sebagai perahu. Mereka berdua selamat dari bencana tersebut. Baru Klinting kemudian kembali menjadi naga untuk menjaga Rawa adanya mitos yang terkait dengan Rawa Pening, tempat ini menjadi lebih menarik. Kisah Baru Klinting yang menjadi naga dan menjaga danau ini memberikan daya tarik menikmati keindahan alam, pengunjung dapat merenungkan dan menghayati nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita Menarik Lainnya Lebih Dekat Melihat Sam Poo Kong, Destinasi Wisata Populer di Semarang Intip Pesona Pegunungan dan Air Hijau di Kawah Ijen, Bau Belerang Menyimpan Keindahan Melihat Puncak Gunung Rinjani dengan View Alam yang Memanjakan Mata Pantai Drini Jogja Punya Ombak yang Besar Jadi Incaran Peselancar Internasional Intip Pesona Gemercik Air dan Pasir Putih di Pantai Pok Tunggal di Gunung Kidul JogjaKonten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di Creators
loading...Kisah Legenda Rawa Pening menyelimuti danau alam seluas hektare di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Foto/SINDOnews/Angga Rosa SEMARANG - Legenda Rawa Pening di wilayah Kecamatan Banyubiru, Tuntang, Bawen dan Ambarawa, Kabupaten Semarang sampai sekarang masih kuat beredar di hari ada ratusan orang yang beraktivitas di danau alam seluas sekitar hektar itu yang menyimpan cerita Legenda Rawa mereka bermacam-macam. Mulai dari mencari nafkah, berwisata hingga menyalurkan hobi memancing. Sejak dulu, Rawa Pening memang menjadi obyek wisata andalan di Kabupaten Semarang. Bisa dipastikan, setiap hari ada wisatawan yang berkunjung. Baca juga Upacara Bendera Petani Rawa Pening, Kibarkan Merah Putih di Tengah Genangan Limpasan Danau Alam Di kawasan Rawa Pening ada beberapa destinasi wisata, antara lain Bukit Cinta yang berada di wilayah Kecamatan Banyubiru, Jembatan Biru di Tuntang, rumah apung di Asinan, Bawen. Sejumlah tempat tersebut kerap dikunjungi untuk berekreasi, para wisatawan yang datang ke Rawa Pening sebagian ada yang kepingin mengetahui kisah Baro Klinting dan legenda terbentuknya Rawa Pening. Berdasarkan cerita sejumlah warga di pesisir Rawa Pening, danau alam itu terbentuk setelah seorang remaja bernama Baro Klinting mencabut lidi yang ditancapkannya di tengah hajatan pesta warga Desa Pathok. Baca juga Rawa Pening Meluap, Puluhan Hektare Sawah di Tuntang dan Banyubiru Terendam Bersamaan dengan itu, muncul air dari lubang bekas tancapan lidi. Air terus membesar dan terjadi banjir. Banjir menenggelamkan desa dan akhirnya menjadi danau yang dikini di kenal dengan nama Rawa 57 warga Desa Rowoboni, Banyubiru menuturkan, berdasarkan cerita turun temurun dari para leluhur, konon legenda Rawa Pening berawal dari kehidupan warga desa di kaki Gunung Telomoyo, yakni Desa Ngasem yang dipimpin oleh Ki Sela Gondang. Kepala desa tersebut dikenal bijaksana. "Ceritanya, Ki Sela Gondang memiliki anak perempuan bernama Endang Sawitri," ujarnya, cerita, kata dia, suatu saat masyarakat Desa Ngasem memiliki hajat menggelar merti desa bersih desa. Namun ada yang harus disediakan warga sebagai tolak bala serta agar hajat tersebut berjalan dengan lancar dan masyarakat desa mendapat keberkahan. Untuk menolak bala dibutuhkan pusaka sakti milik Ki Hajar Salokantara. Kemudian Ki Selo Gondang mengutus putrinya untuk meminjam pusaka sahabatnya itu. Mendapat tugas tersebut, Endang Sawitri segera melaksanakan tugas yang diberikan bertemu dengan Ki Hajar Salokantara, Endang Sawitri kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya untuk meminjam pusaka. Ki Hajar Salokantara pun meminjamkan pusaka yang dimaksud. Namun sebelum Endang Sawitri pulang, Ki Hajar Salokantara berpesan jangan sampai pusaka itu diletakkan di atas tetapi, di tengah perjalanan Endang Sawitri tanpa sengaja meletakkan pusaka itu di atas pangkuannya. Akibatnya, perut Endang Sawitri sakit. Endang Sawitri juga merasa sering mual-mual. Setelah diperiksa ternyata, Endang Sawitri membuat Ki Sela Gondang bingung. Akhirnya Ku Sela Gondang memohon Ki Hajar Salokantara untuk menilai putrinya. Dengan berat hati, Ki Hajar Salokantara menerima permintaan tersebut dan menikahi Endang Ki Hajar Salokantara bertapa di Gunung Telomoyo. Waktu terus berlalu dan waktu melahirkan pun tiba. Proses persalinan Endang Sawitri ditolong oleh seorang dukun bayi. "Dukun bayi itu, terkejut setelah mengetahui yang lahir ternyata ular naga. Begipula dengan Endang Sawitri, dia juga terkejut ketika melihat anaknya berwujud ular naga," kata ular naga itu diberi nama Baro Klinting seperti nama pusaka milik Ki Hajar Salokantara. Seiring berjalannya waktu, Baro Klinting pun bertumbuh besar. Kemudian Baro Klinting menanyakan keberadaan ayahnya. Endang Sawitri pun menjelaskan ayahnya bernama Ki Hajar Salokantara dan saat itu sedang bertapa di Gunung Baro Klinting meminta izin kepada ibunya untuk menemui ayahnya di Gunung Telomoyo. Permintaan itu pun diizinkan. Endang Sawitri pun membekali Baro Klinting sebuah pusaka sebagai bukti bahwa dirinya anak Ki Hajar itu, Baro Klinting berjalan menuju Gunung Telomoyo. Sesampainya di gunung itu, Baro Klinting bertemu dengan seorang pertapa dan menanyakan keberadaan Ki Hajar Salokantara. Pertapa itu pun terkejut. Akhirnya Ki Hajar Salokantara memberitahu Baro Klinting bahwa dirinya adalah orang yang dicari. Kemudian Ki Hajar Salokantara menanyakan maksud dan tujuan Baro Klinting mencarinya. Ular naga yang bisa berbicara seperti manusia itu pun memberitahukan bahwa dirinya adalah anak Ki Hajar Salokantara. Mendengar pengakuan itu, Ki Hajar Salokantara pun menanyakan bukti yang bisa menyakinkan dirinya. Lantas Baro Klinting menunjukkan pusaka yang diberikan Hajar Salokantara mengakui bahwa pusaka itu benar miliknya. Namun Ki Hajar Salokantara belum yakin. Dia baru yakin jika anaknya bisa melingkari Gunung Telomoyo dengan tubuhnya. Baro Klinting pun langsung melingkari Gunung Telomoyo dan Ki Hajar Salokantara pun mengakui bahwa ular naga itu adalah Baro Klinting diminta bertapa agar dirinya bisa berubah wujud menjadi manusia. Namun di tengah pertapaan, ada sejumlah warga dari Desa Pathok yang sedang berburu dan melihat tubuh ular naga. Mereka pun lantas memotong tubuh ular naga itu dan membawa pulang untuk di bertapa, wujud Baro Klinting pun berubah menjadi manusia. Tetapi pada tubuhnya terdapat luka yang mengeluarkan bau tak sedap. Selanjutnya, Baro Klinting turun gunung dan sampai di Desa Pathok. Di desa tersebut Baro Klinting menjumpai sejumlah warga sedang menggelar pesta yang dipenuhi dengan makanan lezat. Baro Klinting yang saat itu merasa lapar, akhirnya memberanikan diri untuk meminta sedikit makanan kepada warga. Namun warga menolaknya dan mengusir Baro Klinting. Tak hanya itu, warga juga mencaci Baro Klinting yang mengeluarkan bau tidak sedap. Akhirnya Baro Klinting pergi dan berjalanan menyusuri jalan desa. Di tengah perjalanan, Baro Klinting bertemu dengan sorang perempuan tua bernama Nyai Latung dan meminta makanan dan minuman."Nyai Latung menerima Baro Klinting dengan baik dan memberikan makana serta minuman. Selesai makan, Baro Klinting berpesan kepada Nyai Latung untuk menyiapkan lesung dan memintanya untuk naiki lesung jika mendengar suara gemuruh. Setelah itu, Baro Klinting pergi menuju tempat hajatan warga," di tempat itu, Baro Klinting langsung menancapkan lidi di tengah keramaian warga sembari meminta warga untuk mencabut lidi itu. Warga pun menganggap itu sebagai lelucon. Tetapi tidak ada satu pun warga yang bisa mencabut lidi itu. Bahkan sejumlah warga berusaha mencabut secara bersama-sama, namun juga tidak bisa."Akhirnya Baro Klinting mencabut lidi itu dan melemparkannya ke arah Gunung Kendalisada. Seketika itu juga muncul air dari lubang bekas tancapan lidi. Air terus membesar," tuturnya. Baro Klinting pun pergi. Sedangkan air yang muncul dari lubang itu, bertambah besar hingga terjadi banjir. Setelah mendengar suara gemuruh seperti banjir, Nyai Latung langsung naik ke atas lesung dan terapung di atas air. Nyai Latung pun selamat dan sampai ke suatu tempat. Oleh Nyai Latung, desa yang tenggelam diberinama Rawa Pening. "Itu cerita turun temurun yang dengar dari para sesepuh. Dan cerita Baro Klinting, sudah meluas hingga daerah lain," ucapnya. shf
Legenda Baruklinting – daerah Ambarawa Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sumber air telaga berasal dari luberan air bekas cabutan lidi Baru Klinting. Alkisah, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya di kutuk seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam. Luka itu tak pernah mau kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar. Akhirnya, tak ada seorang pun yang mau bersahabat dengannya. Jangankan berdekatan, bertegur sapa pun mereka enggan. Setiap berpapasan mereka pasti melengos. Tak ingin bersinggungan, karena takut tertular. Bocah ini pun mulai berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Hingga kemudian dalam mimpinya, ia bertemu seorang wanita tua yang baik hati. Kelak dialah yang sanggup melepaskan mantera jahat tersebut sehingga ia bisa pulih seperti semula. Akhirnya, tak dinyana tak di duga, dia pun tiba di sebuah kampung yang kebanyakan orang-orangnya sangat sombong. Tak banyak orang miskin di tempat itu. Kalaupun ada, pasti akan di usir atau dibuat tidak nyaman dengan berbagai cara. Kemunafikan orang-orang kampung ini mengusik nurani bocah kecil tadi, yang belakangan diketahui bernama Baru Klinting. Dalam sebuah pesta yang meriah, bocah tersebut berhasil menyellinap masuk. Namun apa ayal, ia pun harus rela di usir paksa karena ketahuan. Saat tengah di seret, ia berpesan agar sudi kiranya mereka memperhatikan orang-orang tak mampu, karena mereka juga manusia. Sama seperti mereka. Di perlakukan begitu ia tak begitu ambil pusing. Namun amarah mulai memuncak, saat puluhan orang mulai mencibir sembari meludahi dirinya. “dasar anak setan, anak buruk rupa”, begitu maki mereka. Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini, kecuali dirinya. Tak percaya dengan omongan sang bocah, masing-masing orang mulai mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, lagi-lagi, lidi itu tak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya orang-orang mulai takut dengan omongan si bocah. “Jangan-jangan akan ada apa-apa?” pikir mereka. Benar saja, dalam beberapa hari, tak ada seorang pun yang sanggup melepas lidi tersebut. Hingga akhirnya, secara diam-diam ia kembali lagi ke tempat itu dan mencabutnya. Seorang warga yang kebetuan lewat melihat aksinya, langsung terperangah. Ia pun menceritakan kisah itu kepada orang-orang yang lain. Tak lama kemudian, tetesan air pun keluar dari lubang tadi. Makin lama makin banyak, hingga akhirnya menenggelamkan kampung tersebut dan membuatnya menjadi telaga. Konon tak banyak orang yang selamat, selain warga yang melihat kejadian dan seorang janda tua yang berbaik hati memberinya tumpangan. Janda ini pula yang merawatnya, hingga secara ajaib, penyakit tersebut berangsur-angsur hilang. Namun penyihir jahat, tetap tak terima, hingga di suatu ketika, Baru Klinting kembali di kutuk. Namun aneh, kali ini kutukan bukan berupa penyakit, tapi malah merubah tubuhnya menjadi ular yang sangat besar dengan kalung yang berdentang pada lehernya. Versi lain menyebutkan, ular ini sering keluar dari sarangnya tepat pukul WIB. Setiap ia bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi; klentang klenting. Akhirnya, bunyi ini pula yang membuatnya di kenal sebagai Baru Klinting. Konon, nelayan yang sedang kesusahan karena tidak mendapat ikan, pasti akan beruntung jika Baru Klinting lewat tak jauh dari tempatnya. Itu yang membuat legenda kehadirannya telah menjadi semacam berkat yang paling di tunggu-tunggu.
bekas cabutan lidi baru klinting